Arsip Kategori: Wisdom Words

Bebek, Ayam Jantan, Merak, Gagak

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu ada ditanah

Mengeruk apa saja yang terbenam basah atau kering

Tenggorokannya tak pernah santai satu saat pun

Ia tak mendengar firman Tuhan selain

“kuluw wasyrabuw” (Makan, minumlah!)

Seperti penjarah yang merangsek rumah

Dan memenuhi kantongnya dengan cepat

Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk

Permata atau kacang tiada beda

Ia jejalkan ke kantong basah dan kering

Kuatir pesaingnya akan merebutnya …

* * *

Ayam jantan penuh nafsu dan ketagihan nafsu

Mabuk dalam anggur tawar yang beracun …

* * *

Merak berwarna ganda

Memamerkan dirinya demi kemasyuran dan nama

Cita-citanya hanya merebut perhatian manusia

Tak peduli baik buruk, hasil dan manfaatnya …

***

Suara berkoak burung gagak

Meneriakan permintaan panjang di dunia

Seperti iblis gagak memohon yang Mahasuci

Kehidupan abadi sampai hari kebangkitan

Iblis berkata. “Berikan aku tempo sampai hari kebangkitan.”

Bukankah sepatutnya ia berkata,” Aku bertaubat duhai Tuhanku.”

Hidup tanpa taubat adalah bencana jiwa …

***

Bebek, Ayam Jantan, Merak dan Gagak menurut Jalaluddin Rumi. Bebek melambangkan kerakusan, Ayam Jantan melambankan nafsu, Merak melambangkan kesombongan dan Gagak melambangkan keinginan abadi.

Dengan Sepenuh Hati …

Jika melakukan sesuatu dengan ikhlas dan sepenuh hati, pasti hasilnya akan baik, jika belum tinggal diperbaiki saja.

Jika melakukan sesuatu untuk orang lain dengan ikhlas, pasti hasilnya juga lebih baik. Misalnya masakan Ibu. Kenapa masakan Ibu selalu enak, karena masakan tersebut dimasak dengan ikhlas, seorang Ibu tentu saja akan memasak sepenuh hati untuk anak-anaknya, maka hasil masakannya pasti terasa enak.

Sabtu lalu, saat acara keluarga, diiringi permainan piano Ibu, adik bungsu saya bernyanyi dengan sepenuh hati, apa adanya, sangat alami dan tidak dibuat-buat. Yang mendengarkannya pasti senang dan tersentuh. Adik saya menyanyikan lagu ini,

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

fannie_Mom

1 Hati 2 Cinta

Mata gadis kecil itu bercahaya ketika melihat ayahnya.

Sang ayah berkata kepada putrinya, “Zainab! Apakah engkau mencintaiku?”

“Ya! Tentu saja aku mencintaimu,” jawab putrinya.

“Apakah engkau mencintai Allah?” sang ayah terus bertanya.

“Sungguh aku mencintai Allah,” putrinya menjawab.

Imam Ali kemudian bertanya kepada putrinya, “Zainab! Bagaimana bisa satu hati mempunyai dua cinta?”

Sayidah Zainab menjawab, “Wahai ayah! Karena mencintai Allah, maka aku mencintai ayah.”

* * *

Kisah berjudul “1 Hati 2 Cinta”, dari buku Cerita-Cerita Favorit, Penerbit Al-Huda, hlm.115.