Scholeia, Tempat yang Menyenangkan

Sekolah berasal dari kata Yunani scholeia, yang artinya tempat bersenang-senang. Saat ini, sekolah kita menjadi tempat anak-anak bersenang-senang atau menakutkan ?

Beberapa waktu lalu pemerintah berjanji memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945 hasil amandemen. Menurut Ratna Megawangi, Dosen Institut Pertanian Bogor kenaikan anggaran pendidikan bukan masalah inti pendidikan Indonesia. Yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah sistem pendidikan dan hasrat guru untuk mengajar.

Pendidikan di Indonesia selama ini academic oriented. Misalnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMU. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Padahal menurut taksonomi, hafalan itu merupakan tingkat terendah kecerdasan manusia. Menurut Albert Einstein, binatang pun bisa diajarkan menghafal. Akibatnya, aspek kreatifitas, deep thinking, tidak berkembang baik. Begitu juga dengan aspek interpersonal, refleksi, emosi, spiritualitas juga tidak berkembang dengan baik.

Sejak kecil anak di Indonesia tidak dibiasakan berpikir kreatif, karena ada sistem peringkat satu sampai sepuluh yang membuat mereka takut berbuat salah. Takut salah itu adalah cerminan takut mengambil risiko. Sikap ini akhirnya terbawa ke dunia kerja.

Jadi apa yang harus menjadi prioritas pembenahan ?

Pertama, pelajaran tidak boleh terlalu banyak, terutama di usia dini 14 tahun ke bawah. Di usia 10 tahun kebawah dimana otak berkembang sampai 95 persen, harus diciptakan sistem pendidikan yang fun atau menyenangkan.

Kedua, para guru harus meningkatkan spirit of teaching. Guru yang berhasil adalah guru yang membuat anak terus bertanya dan dirindukan anak-anak. Sskolah yang berhasil adalah sekolah yang kalau libur, atau murid-muridnya dipulangkan cepat, para murid justru enggan karena mereka maunya tetap sekolah. Sekolah berasal dari kata Yunani scholeia, yang artinya tempat bersenang-senang.

Tidak apa-apa sekolah sampai malam asal fun atau menyenangkan. Kalau tidak fun, sampai jam 10 pagi pun sudah capek sekali. Jadi, yang penting adalah membuat suasana bagaimana mereka tidak merasa belajar, tapi bermain, padahal mereka sebenarnya belajar. (*)

* Resume wawancara Ratna Megawangi dengan Koran Tempo, dimuat 21 September 2008

Iklan

6 thoughts on “Scholeia, Tempat yang Menyenangkan

  1. Rayyan Sugangga Penulis Tulisan

    @ Rindang
    Menurut aku, kampus juga termasuk sekolah, hanya segmennya saja yang berbeda 🙂
    Jadi kampus harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar.

    @ doelsoehono
    Maksudnya bersenang-senang disini bukan hanya bermain terus Pak Doel tapi bagaimana caranya sekolah itu menjadi tempat yang menyenangkan untuk mempelajari sesuatu, anak-anak tidak merasa terpaksa untuk mempelajari sesuatu.

    @ Pak Angger
    Ayo siapa mau coba ke APIQ 🙂

    Balas
  2. dsH

    setuju mas,
    salah satu hal yang harus dibenahi adalah hasrat guru untuk mengajar,,

    banyak banget guru jaman skarang yg lebih mentingin duit, bukan ketersampaian materi ke murid2nya,,huhu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s