Bisnis kesehatan

Pada Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Kamis 18 Oktober 2007, terdapat berita yang memuat peristiwa terbakarnya 14 rumah dan toko di Jl. A. Yani Cicadas Kota Bandung, disebutkan seorang petugas Dinas Kebakaran Kota Bandung pingsan karena kekurangan oksigen dan langsung dibawa ke salah satu rumah sakit ternama di Kota Bandung. Namun karena tidak ada yang menjamin korban, maka pihak rumah sakit tidak langsung menangani petugas tersebut. (Surat Pembaca, Harian Umum Pikiran Rakyat 24 Oktober 2007, Hal.21).

Kasus serupa seperti diatas pernah saya alami bersama keluarga saya. Kasus pertama di Surabaya, front office rumah sakit ternama memberi syarat bahwa keluarga harus memberikan deposit terlebih dahulu jika kakek saya ingin dicarikan kamar dan mendapat perawatan. Karena saat itu panik, buru-buru apalagi saat itu dini hari jadi sebagian keluarga yang mengantar ke rumah sakit tidak ada persiapan cukup uang, keluarga yang lain juga masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Meski sudah memohon agar segera diberi pertolongan dahulu, tetap saja dipersulit dan kakek saya diterlantarkan begitu saja, padahal saat itu kakek saya sedang menghadapi sakratul maut.

Beberapa saat kemudian, salah satu paman saya yang baru tiba , tanpa basa-basi langsung mengeluarkan segepok uang dan membanting uang tersebut ke meja front office tersebut. “Kalian ini manusia bukan, ini urusan nyawa cepat cari kamar“, dengan ketakutan para petugas baru bergerak mencari kamar dan memberi pertolongan.

Kasus kedua saat saudara saya melahirkan. Bayi yang dilahirkan kembar dan kebetulan prematur sehingga harus masuk ICU semua. Karena sangat prematur bayi pertama meninggal, dan langsung dimakamkan. Esoknya bayi kedua menyusul. Bayi kedua meninggal saat Maghrib dan keluarga berniat segera memakamkannya, pihak rumah sakit mengatakan bahwa jika ingin membawa jenazah bayi yang kedua harus menyelesaikan administrasi yang tersisa .

Keluarga meminta untuk segera memakamkan jenazah karena semua sudah dipersiapkan, lagipula saat itu pihak rumah sakit masih merekap biaya yang kurang. Pihak rumah sakit tetap menolak. Ya Allah, keterlaluan sekali, padahal sejak masuk keluarga selalu tepat waktu melunasi berbagai macam tagihan yang jumlahnya besar, disamping sisanya tidak besar, keluarga memang ingin segera memakamkan karena takut kemalaman.

Yang membuat saya miris, pihak rumah sakit tiba-tiba mensyaratkan meninggalkan BPKB Mobil, kata-kata dan sikap pihak rumah sakit sangatlah sinis, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, pokoknya kasar sekali, di suasana duka pihak rumah sakit masih tega mengatakan hal seperti itu, lagipula mosok keluarga harus pulang dulu mengambil BPKB . Akhirnya keluarga mengalah dan menunggu hasil rekap sisa biaya yang harus dibayarkan dan melunasi. Alhasil jenasah baru dimakamkan sekitar pukul 10 malam.

Apa tidak ada cara yang lebih santun bagi rumah sakit untuk mengambil profit atau tidak mengalami kerugian ? Apa memang seperti ini tujuan sebuah rumah sakit itu dibangun ? Bagaimana untuk masyarakat yang tidak mampu ?

Iklan

4 thoughts on “Bisnis kesehatan

  1. indra kh

    Sangat miris. Kondisi semacam ini menjadi hal yang banyak dilakukan sejumlah RS di negeri ini. Dari pengalaman saya RSAI Jl. Soekarno Hatta Bandung bisa dikatakan lebih care. Mereka memberikan waktu kepada kita 2 hari untuk deposit. Jadi jika pasien gawat datang, perawatannya dulu yang diutamakan.

    Balas
  2. hisdiarri

    Saya ada pengalaman menghadapi rumah sakit “bawel” (walau ini bukan solusi baik) yaitu dengan bersikap tegas sekaligus agak keras bahkan agak kasar. Memang kadang tidak sesuai dengan kata hati yang tidak ingin bersikap seperti itu tapi bagaimana lagi, perawatan yang tepat dan cepat adalah sangat vital bagi pasien yang sedang menyabung nyawa.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s