Pasar Seni ITB 2006

Pasar Seni ITB 2006

Minggu kemarin adalah hari jalan bagi saya … Bangun pagi jam 6 langsung bersiap-siap main bola sampai jam 10. Usai bermain bola, saya buru-buru pulang ke rumah, mau bersih-bersih, karena usai dhuhur saya dan saudara saya berniat mengunjungi Pasar Seni ITB, kayanya sayang aja kalo nggak datang ini event 5 tahunan sekali, lagipula saya belum pernah datang.

Date

Jam 2 saya dan saudara saya langsung menuju ke Pasar Seni ITB. Wuiihh … jalanan di Bandung macet dimana-mana, akhirnya kita putuskan untuk parkir di Zoe Comic Corner dan kita berjalan kaki menuju ITB.

Sampai di jalan Ganesha, jalanan penuh banyak orang lalu lalang, ada yang baru datang dan ada yang pulang. Wah … mau masuk aja susahnya minta ampun … yang lebih kasihan lagi ada mobil yang mau keluar tapi nggak bisa, gimana caranya mau keluar kalo mobil itu dikelilingi ratusan orang yang hilir mudik sangat padat.

Akhirnya kita berhasil melewati pintu masuk, dan langsung disambut berbagai komik besar yang bercerita lucu-lucu. Ada tiga panggung utama dan wahana–wahana dari masing–masing program studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain yang tersebar di beberapa titik di dalam kampus ITB. Panggung utama di Jalan Ganesha ada Tika, Changcuters, dan The S.I.G.I.T., band pop masa kini. Sementara bagi yang suka musik ajep-ajep (dugem) panggung Teknofutura Mengada–ada yang bertempat di lantai bawah Campus Center Timur, selain menampilkan beberapa video art hasil karya mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB, juga menghadirkan penampilan grup musik beraliran tekno seperti Rock and Roll Mafia, dan Goodnite Electric. Panggung terakhir, yakni panggung tradisional yang bertempat di daerah sekitar TVST, menyajikan kesenian Tradisional seperti Debus, tari Bali dan lain-lain.

Semua itu ditambah berbagai stand kriya/kerajinan dan kesenian yang unik-unik … ditambah stand makanan dan minuman nyam…nyam….nyam.

Yang paling unik tentu penampilan anak-anak Institut Kesenian Jakarta, mereka berpenampilan persis banget kaya para tunawisma … saat saya melewati tempat mereka beristirahat di salah satu pojok Fakultas Seni Rupa dan Desain … kaya melewati perkampungan kumuh dimana gitu, tapi mereka cuek aja … dasar seniman …. malah kayanya saya dan saudara saya seperti orang asing, bajunya rapi sendiri.

Saya dan saudara saya muter-muter aja dari satu zona ke zona lain dari bawah sampai atas. Menjelang sore kita putuskan untuk menuju panggung utama, sekalian pulang. Setelah maghrib ada grup musik bernama “SambaSunda” , musiknya keren campuran musik samba brazil dan tradisional sunda sumatera, musisinya ada yang bule juga lho, penonton disitu berjoget semua … penuh banget mengalahkan antusias penonton saat band-band modern tampil.

Seusai SambaSunda tampil, saya dan saudara saya menunggu penampilan musik berikutnya, setelah menunggu 15 menit -an, percaya atau tidak … pertunjukan yang ditampilkan adalah musik dangdut, bukannya saya benci musik dangdut, musik dangdutnya itu sih nggak apa-apa, tapi penyanyinya itu lho … sangat minim sekali bajunya, biasanya pertunjukan seperti ini tempatnya bukan di tempat akademisi seperti di ITB. Jadi jangan bayangkan penampilan musik dangdut oleh Ikke Nurjanah atau Cici Paramida, tapi apa ya istilahnya ya … mungkin Wild Dangdut ha..ha..ha.. 🙂

Saya dan saudara saya langsung memutuskan pulang dan berguman : “Sayang sekali ya kok panitia menampilkan pertunjukan seperti itu, di tengah anak-anak muda lagi”.

Tapi hanya itu saja yang membuat kami kecewa, sisanya puas jalan-jalan, lihat-lihat kerajinan kesenian, makan … makan … dan makan. Salut buat ITB deh … ditunggu Pasar Seni berikutnya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s