Komentar AAC
Sebelum film AAC tayang di Bandung, saya sudah memiliki film ini. File film ini diberi oleh teman saya. Kualitasnya sangat bagus, tetapi masih terdapat tanda-tanda atau petunjuk yang belum dihapus, seperti petunjuk waktu durasi film. File film ini bukan hasil merekam dari bioskop-bioskop Jakarta yang telah terlebih dahulu menayangkannya, perkiraan saya mungkin file film ini bocor atau dicuri dari komputer yang digunakan untuk mengedit film ini. Ternyata bukan hanya lagu yang bisa bocor duluan sebelum diluncurkan, ternyata film juga bisa.
Walau memiliki file film ini saya tetap tidak mau menontonnya, saya ingin nonton di bioskop saja. Pada hari kedua pemutaran film ini, saya, mbak Intan dan Hadi berkeinginan menonton film ini. Saat tiba di loket tertera Stulisan “Tiket hari ini habis“, padahal masih ada beberapa waktu tayang lagi tapi sudah habis semua. Sehabis futsal hari Sabtu, saya mencoba lagi untuk menonton, kali ini sendiri. Walah … antriannya sampai meluber keluar lokasi bioskopnya. Gak jadi lagi nonton di bioskopnya.
Maafkan saya Mas Hanung …
Saya sudah penasaran sekali dengan film AAC. Saya penasaran apakah filmnya akan sama dengan novelnya. Tebakan saya, yang belum pernah baca novelnya sebagian besar pasti akan mengatakan film AAC bagus, tapi menurut saya penilaian bagi yang sudah baca novelnya pasti akan jauh berbeda.
Saya bisa mengatakan itu karena saya sudah nonton file film itu. Padahal Mas Hanung sendiri sudah sudah kesal karena film AAC dibajak. Apalagi menurut Mas Hanung film bajakan itu masih belum selesai proses editannya, seperti belum ada tata suara yang mendukung saat suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, lalu suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara perempuan, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk.
Yang dikatakan Mas Hanung itu memang benar, filmnya belum selesai diedit. Meski begitu karena penasaran banget dan tidak pernah kebagian tiket, saya tonton juga file ini … (jangan tiru tindakan ini he he he
)
Menurut saya film AAC bagus, tapi masih lebih bagus saat membaca novelnya. Terus apa lagi ? Ya pokoknya filmnya bagus. Tapi ada masukan atau dibilang kritikan juga boleh. Dari awal memang saya kurang setuju dengan pemilihan para pemainnya, menurut saya Novel AAC memiliki kekuatan cerita yang sangat kuat dan bagus, sehingga lebih baik para pemainnya didominasi wajah baru. Jika itu dilakukan, saya yakin film AAC tetap akan meledak seperti sekarang.
Lalu, sebenarnya banyak nilai-nilai dan pesan yang tersirat dari novelnya namun tidak muncul di filmnya. Ya saya maklum, harus disesuaikan dengan selera pasar yang nge-pop, seperti lebih menonjolkan sisi romantisme (kadang terlalu vulgar, tidak seperti di novelnya). Selain banyak adegan yang tidak ditampilkan, malah ada adegan-adegan yang sebetulnya tidak ada dalam novelnya.
Ya sudahlah, memang sulit kok mem-filmkan sebuah novel itu, tidak mudah. Meski begitu untuk sebuah film, termasuk bagus kok … meski memang tidak sama asyiknya seperti saat membaca novelnya.

Tia udah nonton, A… cuma bajakannya. sama gitu dapet file dari temen. hihi… abis nggak sempet ke bioskop sie… dosen lagi pada sensi semua. tugas banyak amat… >_<
TiaLucu
Maret 1, 2008 at 1:42 pm
Meski sudah nonton bajakannya, saya tetap mau nonton di Bioskop he he
Rayyan Sugangga
Maret 3, 2008 at 2:45 am
lain kali, kalo film Indonesia jangan nonton yg bajakan,
hehehehehe…..
siska
Maret 4, 2008 at 11:43 am
ane jga pnya pndapat yg sma dgn antm,,menrt aq lbh baik novelnya dr pada film nya,jauh malah,,-bhkan aq sempat kecewa dgn pemain film nya yg tak menampilkan ke shalihan,msak muslimah teriak2 d dpan umum-,,jiah..:p
pokok’y ane kecewa lah dgn pemain2′y
admiral aokiji-akainu
Desember 30, 2008 at 2:00 pm